Sabtu, 29 Desember 2012

Gangguan dalam perkembangan jiwa keagamaan.


A.faktor intern
1. Factor Hereditas
            Jiwa keagamaan memang bukan secara langsung sebagai factor bawaan yang di wariskan turun-temurun,melainkan terbentuk berbagai dari berbagai unsure kejiwaan lainnya yang mencakup kognitif,afektif,dan konatif,tetapi dalam penelitian terhadap janin terungkap bahwa makanan dan perasaan ibu berpengaruh terhadap kondisi janin yang ia kandung.
            Meskipun belum di lakukan penelitian mengenai hubungan antar sifat kejiwaan anak dengan orang tuanya,namun tampak pengaruh tersebut  dapat di lihat dari hubungan emosional. Rasul saw menyatakan bahwa daging makanan yang haram,maka nerakalah yang lebih berhak atasnya pernyataan ini setidaknya menunjukkan ada hubungan antar status makanan (halal dan haram) dengan sikap.
            Perbuatan buruk dan tercela jika di lakukan,menurut Sigmund freud akan menimbulkan rasa bersalah (sense of guilt) dalam diri pelakunya.bila pelanggaran yang di lakukan terhadap larangan agama,meka dalam diri pelakunya akan timbul rasa berdosa.dan perasaan seperti ini barang kali yang ikut mempengaruhi jiwa keaganaan tidaknya hubungan konversi dengan tingkat usia seseorang.namun hubungan antara tingkat usia dengan perkembngan jiwa keagamaan barangkali tak dapat di abaikan begitu saja.berbagai penelitian psikologi agama menunjukkan adanya hubungan tersebut,meskipun tingkat usia bukan merupakan satu-satunya factor penentu dalam pengembangan jiwa keagamaan seseorang.yang jelas,kenyataan ini dapat dilihat dari adanya perbedaan pemahaman agama pada tingkat usia yang berbeda.   sebagai unsure hereditas.

2. Tingkat Usia
            Dalam bukunya the development of religion on children ernest herms mengungkapkan bahwa perkembangan agama pada anak anak di tentukan oleh tingkat usia mereka. Perkembangan tersebut di pengaruhi oleh perkembangan berbagai aspek kejiwaan termasuk perkembangan berfikir.ternyata anak yang menginjaknusia berfikir kritis,lebih kritis puladalam memahami ajaran agama.selanjutnya, pada usia remaja saat mereka menginjak usia kematangan seksual,pengaruh itupun menyertai perkembangan jiwea keagamaan mereka.
            Tingkat perkembangan usia dan kondisi yang di alami para remaja ini menimbulkan konflik kejiwaan,yang cendrung mempengaruhi terjadinya konversi agama.
            Hubungan antara perkembangan usia dengan perkembangan jiwa keagamaan tampaknya tak dapat di hilangkan begiru saja.bila konversi lebih di pengaruhi oleh sugesti,maka tentunya konversi akan lebih banyak terjadi pada anak-anak,mengingat di tingkat usiatersebut mereka lebih mudah menerima sugesti.
            Terlepas dari ada 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar